Tampilkan postingan dengan label Isu Hacker. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Isu Hacker. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Januari 2012

Hindari Sensor, Hacker Ingin Bangun Satelit Sendiri

hackerSemakin banyaknya sensor di internet, akhirnya membuat hacker komputer berniat untuk menempatkan satelit komunikasinya sendiri ke orbit. Maka dengan cara ini, mereka bisa berada di luar jangkauan sensor.

Dilansir BBC, Selasa (3/1/2012), proyek ini diuraikan saat Chaos Communication Congress di Berlin. Penyelenggara proyek ini mengatakan, Hackerspace Global Grid akan mengembangkan grid di stasiun bawah tanah untuk melacak dan berkomunikasi dengan satelit.

Ide ini pertama kali diungkapkan oleh aktivis hacker, Nick Farr saat Agustus lalu. Dia mengatakan, bahwa ancaman meningkatnya sensor internet telah memotivasi projek ini.

Farr mencontohkan proposal undang-undang yang diusulkan oleh Stop Online Piracy Act (SOPA) di Amerika Serikat (AS), sebagai contoh kecaman yang akan dihadapi kebebasan online. Jika akhirnya SOPA berhasil, makan bisa saja beberapa situs akan diblokir dengan alasan hak cipta.

Proyek ini terlihat ambisius, ini juga diakui oleh Armin Bauer yang bekerja di Hackerspace Global Grid. “Ini memang sangat ambisius, jadi kami akan mencobanya dari sesuatu yang lebih kecil dahulu,” ujat Bauer.

Bahkan dalam jangka panjang, sebuah proyek ruang angkasa hacker yang lebih besar yang nantinya bertujuan untuk menempatkan astronot amatir ke bulan dalam 23 tahun mendatang.

Jumat, 28 Oktober 2011

Spionase Jadi Tren Baru Serangan Cyber

Spionase Jadi Tren Baru Serangan CyberSymantec, Kamis (27/11/11) mengumumkan hasil survei terhadap 3.300 responden di 36 negara. Symantec mensurvei para profesional tingkat, tim TI strategis dan taktis, dan individu-individu yang bertugas pada sumber daya TI di perusahaan-perusahaan dengan rata-rata 5 hingga lebih dari 5000 karyawan. Survei dilakukan pada April dan Mei 2011.

Hasil survei menunjukkan, 69 persen organisasi atau perusahaan merasakan adanya serangan dalam 12 bulan terakhir. Sebanyak 15 persen melaporkan frekuensi serangan meningkat dan hampir semua (99 persen) menyatakan mengalami kerugian akibat serangan cyber sepanjang tahun 2011. Setidaknya ada tiga poin yang menjadi tren penting dari hasil survei tersebut.

Poin pertama adalah dengan berkembangnya sistem komputasi, perusahaan menjadi semakin protektif pada serangan cyber. Perusahaan tidak memungkiri penggunaan telepon pintar dan tablet di lingkungan mereka, serta semakin populernya jejaring sosial, juga merupakan pemicu datangnya serangan.

Kedua, tren serangan ternyata berasal dari kalangan internal. Perusahaan mengakui, spionase industri tetap menjadi kekhawatiran utama mereka. Sebanyak 45 persen responden mengakui menemukan orang dalam yang berbahaya. "Banyak serangan yang justru berasal dari internal perusahaan, karena masalah persaingan. Ini dianggap lebih berbahaya, karena dibandingkan serangan dari luar yang bisa diantisipasi secara global, serangan dari dalam akan sulit terlacak secara dini," ungkap Raymond Goh, Director Systems Engineering, Regional Asia Pasifik Symantec dalam media briefing di Grand Hyatt Hotel, Jakarta, Rabu (25/10/2011).

Poin ketiga adalah perusahaan menemukan bahwa serangan cyber merupakan fokus perusahaan di luar serangan yang bersifat fisik seperti terorisme, tindakan kriminal, dan bencana alam. Serangan cyber menduduki posisi pertama yang menjadi fokus perusahaan untuk diantisipasi lebih dahulu. Sebab, kerugian yang diakibatkan oleh serangan cyber menyebabkan kerugian minimal 290 ribu dolar AS dalam 12 bulan terakhir. Ingat, bagaimana perusahaan Sony harus berjuang mempertahankan pelanggan Play Station setelah diserang peretas secara besar-besaran.

Tiga kerugian teratas yang dilaporkan adalah down time, pencurian kekayaan intelektual, dan pencurian informasi finansial pelanggan. Kerugian ini setara dengan biaya keuangan dalam 79 persen dari seluruh waktu operasional. Hasil survei global ini harus menjadi perhatian pula di Indonesia. Dari hasil survei ini, Raymond Goh menyarankan agar praktisi TI pada perusahaan-perusahaan Indonesia juga mulai memikirkan pentingnya keamanan cyber bagi lingkungan perusahaan.

Senin, 24 Oktober 2011

"Hacker" Bagi-bagi 10.000 Akun Facebook

Tim Swastika Bagi-bagi 10.000 Akun FacebookSekelompok grup hacking yang menamakan dirinya "Tim Swastika" berhasil membobol lebih dari 10.000 akun Facebook. Setelah di-hack, puluhan ribu akun Facebook tersebut di-posting ke dalam layanan berbagi file di Pastebin. Apa yang dilakukan oleh Tim Swastika bukan kali ini saja, beberapa waktu lalu mereka juga memublikasikan database yang dicuri dari website Kedutaan Besar India di Nepal dan pemerintahan Bhutan.

Laporan mengejutkan ini dilansir oleh Trend Micro, sebuah perusahaan yang fokus di bidang keamanan internet. Rik Ferguson, Peneliti Keamanan Senior dari Trend Micro, mengatakan, "Tim Swastika telah dua kali mem-posting ribuan credential data Facebook yang mereka hacked. Posting pertama di awal Oktober, lalu mereka masukkan ke dalam beberapa forum underground, sisanya ke dalam layanan berbagi file, Pastebin."

"Sebuah posting di Wall dari seorang teman tampaknya tidak berbahaya, video share dari kontak online, atau pesan instan dari rekan dapat berpotensi menyebabkan serangan. Ancaman mobile di dalamnya termasuk worm dan spyware yang menyerang pengguna yang mendeteksi lokasi dan aktivitas pengguna selama berselancar di internet. Dalam enam bulan terakhir, kami telah mengobservasi bahwa pertumbuhan malware yang menyerang ponsel berbasis Android telah meningkat 14 kalinya," ujar Myla Pilao, Director of Core Technology di TrendLabs dari Trend Micro.

Atas kejadian tersebarnya ribuan akun Facebook ini, Trend Micro memberikan beberapa tips untuk mengamankan akun jejaring sosial yang Anda miliki:

1. Gunakanlah password yang berbeda untuk setiap akun jejaring sosial yang Anda miliki.

2. Buatlah password yang unik, tetapi mudah diingat. Misalnya, gabungan antara huruf dan angka.

3. Buatlah jawaban yang unik terhadap "pertanyaan keamanan" untuk mengingatkan jika sewaktu-waktu Facebook Anda dicurigai dibuka oleh orang lain.

4. Lakukanlah sign out ketika selesai membuka laman, terutama saat Anda mengakses jejaring sosial menggunakan jaringan nirkabel di ruang publik.

5. Hati-hati mengeklik link dari postingan di Wall atau tweet yang pengirimnya tidak Anda kenal.

Minggu, 09 Oktober 2011

Hacker Acak-acak Situs Pemenang Nobel

Seorang hacker memasukkan nama tokoh populer Serbia di situs Nobel Prize, sebagai pemenang nobel, sehingga memunculkan kebingungan di Serbia.

Seperti yang dikutip dari Arabnews, Minggu (9/10/2011), hacker tersebut memasukkan nama Dobrica Cosic sebagai pemenang Nobel di kategori Literature, di situs Nobel. Bahkan media televisi sempat meliput berita kemenangan tersebut.

Ternyata hal tersebut merupakan hoax, meski nama tokoh Serbia berusia 90 tahun tersebut sempat dipercaya sebagai pemenang sebenarnya. Toh akhirnya kemudian diumumkan secara resmi bahwa pemenang aslinya berasal dari Swedia.

Hacker yang tidak diketahui tersebut memasang informasi alah di situs Nobel Prize, termasuk foto Cosic beserta kutipan-kutipan dari buku karyanya.

Dobrica Cosic sangat populer di Serbia. Ia disebut sebagai salah satu pelopor gerakan nasionalisme Serbia, yang mengakibatkan pecahnya Yugoslavia pada tahun 90-an.

Belakangan diumumkan bahwa pemenang Nobel Prize untuk kategori Literature jatuh ke Tomas Transtromer, seorang penyair asal Swedia.

Selasa, 04 Oktober 2011

Bagaimana Hacker Meng-crack Data Enkripsi?

Data Enkripsi adalah kunci utama untuk keamanan internet. Setiap kali Anda log-in ke akun email atau sebuah situs, kemungkinan besar browser sudah dilindungi dengan teknologi enkripsi ini atau biasa disebut dengan TLS (Transport LaYer Security).

TLS ini pertama kali dikembangkan pada 1999 sebagai perbaikan dari SSL (Secure Socket Layer) enkripsi 3.0, TLS 1.0 digunakan sebagai bagian dari enkripsi HTTPS yang menjadi standar Web untuk mengenkripsi data.

Hampir semua situs web dan browser menggunakan TLS untuk mengamankan informasi yang ditransfer antara pengguna internet dengan situs yang dikunjungi.

Peneliti keamanan Thailand Duong dan Juliano Rizzo mengaku telah meng-cracking data ekripsi TSL 1.0 hanya dengan menggunakan sniffer (memonitor paket data di jaringan) dan sedikit kode JavaScript.

Sebagaimana dilansir PC World, Rabu (5/10/11), Duong dan Juliano melakukan demonstrasi langsung menggunakan BEAST (Browser yang digunakan untuk mengeksploitasi SSL/TLS) di Konferensi Keamanan Ekoparty Buenos Aires selama pertengahan September.

Cracking data ini dimulai dengan kode JavaScript yang menginfeksi browser ketika seorang pengguna internet meng-klik sebuah link yang tidak jelas atau mengunjungi situs web yang berbahaya.

Ketika BEAST menginfeksi browser, maka monitor akan melakukan pertukaran data dengan website enkripsi. Biasanya ini dengan memasukkan blok dari plain-teks ke dalam data.

Setelah 5-10 menit BEAST menginfeksi browser, menurut laporan Rizzo kepada The Register, BEAST biasanya berhasil meng-cracking kode pada data enkripsi tersebut. Kemudian data tersebut digunakan untuk mengatur data enkripsi rahasia yang tersimpan di cookie komputer.

Sebelum mendemonstarisakan cracking tersebut, Duong dan Juliano telah memberitahukan kepada pengembang browser seperti Firefox dan Internet Explorer. Semoga dengan publisitas cracking data enkripsi ini mendorong server dan pengembang browser untuk mengupgrade sistem enkripsi mereka.

Windows pun telah berjanji untuk melindungi data mereka dari BEAST ini. Sedangkan untuk Chorme, Ahli Kapersky Lab, Kurt Baumgartner mengatakan bahwa Chrome tidak perlu terlalu khawatir dengan cracking tersebut karena sumber data Chromium sudah dilindungi dari eksploitasi ini tiga bulan lalu.

Pengembang browser Dapat menggunakan TLS 1.1 atau 1.2 yang secara toritis kebal terhadap serangan seperti BEAST Selain itu browser seperti Chrome atau Facebook Connect API dapat melindungi data mereka dari BEAST dengan menghindari malware dengan mengembangkan browsing aman, seperti tidak membuka link-link yang tidak dipercaya.

Jumat, 23 September 2011

Anggota Lulz Pembobol Sony Pictures Tertangkap

FBI telah menangkap salah satu anggota Lulz karena dicurigai melakukan serangan hacking terhadap website Sony Pictures.

Cody Kretsinger yang berasal dari Phoenix, Arizona baru saja ditangkap dan telah didakwa melakukan konspirasi dan gangguan ilegal dengan melakukan serangan jaringan komputer kepada Sony pada Mei sampai Juni lalu.

"Sejak 27 Mei 2011 hingga 2 Juni 2011, sistem komputer dari Sony Pictures Entertainment telah diretas oleh kelompok yang dikenal sebagai 'LulzSec', atau 'Lulz Security', yang mengaku bertanggung jawab di website LulzSec tersebut," kata FBI dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip TG Daily, Sabtu (24/9/2011).

"Kretsinger, yang dikenal dengan julukan 'rekursi', diyakini menjadi anggota atau mantan anggota LulzSec. Tingkat kerusakan yang dialami Sony Pictures akibat serangan tersebut masih terus diselidiki," lanjut FBI.

Menurut dakwaan, Kretsinger menggunakan proxi (cache) server untuk menyembunyikan alamat IP-nya. Dia dan para anggota Lulz lainnya menggunakan serangan injeksi SQL untuk mendapatkan informasi rahasia dari sistem komputer Sony Pictures. Setelah mendapatkan informasi tersebut lalu mereka mepublikasikan di situs LulzSec.

Surat dakwaan tersebut mengatakan bahwa Kretsinger kemudian menghapus secara permanen hard drive komputer yang digunakannya untuk melakukan serangan kepada Sony Pictures.

Kemarin pria berumur 23 tahun ini menjalani persidangan yang dipimpin oleh hakim federal di Phoenix. Jika terbukti bersalah, maka Kretsinger menghadapi tuntutan 15 tahun penjara.

Sabtu, 17 September 2011

Hacker Iran Kelabui Pengguna Internet Internasional

Sebuah penelitian terbaru dari Trend Micro menemukan bahwa pengguna internet dalam lebih dari 40 network berbeda dari Internet Provider dan Universitas Iran ternyata mengandung sertifikat SSL tiruan yang diterbitkan oleh Diginotar.

Situs penyedia dan penjual sertifikat SSL dari Certificate Authority Belanda, ternyata digunakan untuk memata-matai pengguna Internet di Iran dalam skala besar.

Secara teori, sertifikat palsu bisa digunakan untuk mengelabui pengguna agar mengunjungi versi palsu dari sebuah situs Web, atau digunakan untuk memantau komunikasi dengan situs nyata tanpa memperhatikan pengguna.

Tetapi dalam rangka untuk mengelabuinya dari sebuah sertifikat palsu, seorang hacker harus mampu mengarahkan lalu lintas internet sasarannya melalui sebuah server yang dia kontrol. Itu adalah sesuatu yang hanya penyedia layanan Internet, atau pemerintah dengan perintah satu, dan dapat dengan mudah melakukannya.

Negara Iran sendiri tidak memiliki Otoritas Sertifikat (Certificate Authority) sendiri. Jika mereka melakukannya, mereka hanya bisa mengeluarkan sertifikat nakal yang diakali. Namun, karena mereka tidak mempunyainya tentu membutuhkan sertifikat tersebut dari CA resmi yang bisa dipercaya seperti dari Diginotar.

Trend Micro melihat kejanggalan ini yang membuat situs penyedia sertifikat SSL, Diginotar dipermainkan oleh para hacker di Iran. Demikian yang dilansir melalui keterangan resminya, Sabtu (17/9/2011).

Pada saat ini hampir ratusan ribu alamat IP yang unik dari Iran meminta akses ke google.com menggunakan sertifikat palsu yang dikeluarkan oleh DigiNotar. Trend Micro mendeteksi ribuan IP yang unik meminta ke alamat google.com telah diidentifikasi. Pada 4 Agustus jumlah permintaan meningkat dengan cepat sampai sertifikat dicabut pada tanggal 29 Agustus.

Bukti tersebut didasarkan pada data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu berkat Trend Micro Smart Protection Network yang menunjukkan sertifikat SSL tiruan yang diterbitkan oleh Diginotar, digunakan untuk memata-matai pengguna Internet di Iran dalam skala besar.

Senin, 08 Agustus 2011

"Hacker" Rampok 1 Miliar Dollar AS Per Tahun

Valiena Allison, Chief Executive Officer ExperiMetal Inc, di Michigan kaget saat mendapat telepon dari Bank Comerica Inc. Pejabat bank tersebut mengatakan adanya transaksi internet yang berasal dari rekening perusahaan sebesar 5,2 juta dollar AS (setara Rp 44 miliar).



Walau mengaku tidak pernah menyetujui transaksi apa pun, bukti menunjukkan bahwa komputer Allison telah melakukan transaksi itu. Saat Allison mencoba meminta bantuan bank, dia malah disalahkan karena membiarkan hacker (peretas) menyusup ke komputernya.



Itu hanya satu dari ribuan kejahatan dunia maya yang terjadi di Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Ahli keamanan internet dari Dell Secureworks, Don Jackson, mengatakan, lebih dari 1 miliar dollar AS uang nasabah perbankan kecil dan menengah di AS dan Eropa dibobol peretas tiap tahunnya.



"Jumlah uang yang dicuri dari nasabah lebih besar dibanding yang pernah dilakukan perampok-perampok terkenal zaman dulu," kata Sheldon Whitehouse, Senator AS dari Partai Demokrat yang tahun lalu memimpin satgas intelijen keamanan dunia maya.



Perusahaan kecil jadi target



Menurut Whitehouse, saat ini kejahatan terorganisasi di Eropa Timur membidik perusahaan kecil, sekolah, dan pemerintah daerah. Pasalnya, rekening perusahaan dan lembaga-lembaga tersebut umumnya hanya mendapat perlindungan dasar yang dikeluarkan bank komunitas atau regional. Selain itu, uang dalam rekening tersebut tidak diasuransikan.



"Kalau semua orang tabu bahwa rekening mereka di bank kecil dan menengah berisiko, mereka akan memindahkannya ke JPMorgan Chase," kata James Woodhill, pengelola keuangan yang menuntut perbankan kecil dan menengah meningkatkan keamanan perbankan online.



JPMorgan Chase & Co merupakan bank kedua terbesar di AS yang berani menjamin rekening dan deposito komersial dari segala bentuk kejahatan dunia maya. "Kami telah berinvestasi secara substansial dalam pencegahan dan deteksi penipuan," ujar Patrick Linehan, juru bicara JPMorgan.



Kejahatan dunia maya merupakan prioritas baru yang ditangani Biro Investigasi Federal AS (FBI) dan Dinas Rahasia AS. Dua lembaga itu telah meningkatkan kemampuan dan tenaga untuk melawan kejahatan dunia maya, termasuk menjalin kerja sama dengan penegak hukum di berbagai negara.



Laporan Dewan Keamanan Nasional AS menyatakan bahwa kejahatan dunia maya telah jadi ancaman serius terhadap sistem keuangan sehingga dikategorikan sebagai kejahatan yang mengancam keamanan nasional. Bagaimana di Indonesia, ya?

kompas[at]dot[com

Serangan Cyber Besar-besaran Lima Tahun Terakhir

Firma keamanan McAfee mengaku telah menyingkap serangkaian serangan cyber yang dinilai sebagai yang terbesar yang pernah ada. Sedikitnya 72 organisasi menjadi target serangan selama lima tahun belakangan.



"Tingkat serangan kali ini sama sekali berbeda dengan serangan Night Dragon yang terjadi (beberapa) tahun lalu. Waktu itu serangannya menyasar sektor tertentu, tapi kali ini sasarannya sangat luas," kata Raj Samani yang mengepalai bidang teknis McAfee di wilayah Eropa. Ia juga mengatakan bahwa serangan ini masih berlanjut.



Serangan tersebut menarget perusahaan-perusahaan besar, Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), International Olympic Commitee (IOC), pemerintah sejumlah negara seperti Vietnam, Korea Selatan, Kanada, dan bahkan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan firma-firma keamanan.



Penelitian yang dilakukan selama lima tahun belakangan melibatkan informasi dari sejumlah organisasi yang diduga menjadi korban. "Dari catatan kami, tampak arah datangnya serangan," kata Samani. "Dalam beberapa kasus, kami diizinkan untuk menyelidiki lebih dalam dan melihat apa saja yang diambil, dan dalam banyak kasus kami punya bukti bahwa ada kekayaan intelektual yang dicuri," jelasnya.



McAfee menolak menyebutkan siapa yang menurutnya harus bertanggung jawab, tapi ada spekulasi yang menyebut bahwa China adalah dalang di balik serangan-serangan tersebut. Akan tetapi, China menampik dan menyebut tuduhan tersebut sebagai tak berdasar dan tak bertanggung jawab. Sanggahan yang dimuat di People's Daily, sebuah surat kabar China, menyebut bahwa laporan McAfee hanya rekayasa agar orang-orang mau membeli produk keamanannya.



Jim Lewis, pakar internet dari Centre for Strategic and International Studies, mengatakan bahwa China sangat mungkin mendalangi semua ini karena sejumlah sasaran punya informasi yang sekiranya sangat dibutuhkan Beijing. "Semua mengarah ke China. Bisa juga Rusia, tapi lebih banyak bukti yang mengarah ke China dibanding Rusia," kata Lewis.



Namun, Graham Cluley, pakar keamanan komputer dari Sophos berkata lain. "Kita tidak bisa membuktikan bahwa dalangnya adalah China. Tapi jangan naif. Semua negara di dunia bisa saja menggunakan internet untuk memata-matai. Mudah dan murah."



Cluley mengatakan, firma-firma keamanan sering kali dikecohkan dengan aksi-aksi yang sangat blak-blakan dari aktivis online seperti LulzSec dan Anonymous, yang telah membobol sejumlah situs penting akhir-akhir ini. "Kadang tidak selalu tentang secara terang-terangan mencuri uang atau membobol data. Tapi secara diam-diam mencuri informasi, yang bisa punya nilai politik, militer atau finansial yang tinggi," kata Cluley. "Singkatnya, jangan sampai pertahanan Anda runtuh."



Sebelumnya, Google menuduh peretas China berusaha mencuri password dari ratusan akun e-mail Google, termasuk pegawai pemerintah Amerika Serikat, dan aktivis HAM dan wartawan China. Saat itu edisi luar negeri People's Daily menyerang balik dengan mengatakan bahwa Google telah menjadi "alat politik" yang dimanfaatkan untuk memfitnah pemerintah China, dan memperingatkan bahwa pernyataan tersebut bisa merusak bisnis Google.

Sabtu, 09 Juli 2011

Serangan Penjahat Cyber Makin Terarah

Para pelaku cyber kini telah melakukan pergeseran strategi besar-besaran dengan meninggalkan serangan spam massal tradisional untuk beralih ke serangan lebih terarah yang dapat menimbulkan kerugian finansial lebih besar.

Penelitian yang dilakukan oleh Cisco Security Intelligence Operations menunjukkan tren meningkatnya serangan-serangan terarah yang terkustomisasi, berisikan malware yang ditujukan bagi pengguna atau kelompok yang spesifik untuk mencuri aset-aset intelektual berharga.

Keuntungan yang diraih pelaku kejahatan cyber dari serangan masal berbasis email berkurang sampai lebih dari 50 persen dari USD1,1 miliar di bulan Juni 2010 menjadi USD 500 juta di bulan Juni 2011.

Jumlah spam massal menurun drastis dari 300 miliar perhari menjadi 40 miliar perhari pada periode Juni 2010 hingga Juni 2011.

“Sekarang ini semakin banyak serangan terarah yang fokus untuk mendapatkan akses ke rekening bank perusahaan dan aset intelektual yang berharga," terang Nick Edwards, Director of Cisco's Security Technology Business Unit, seperti dilansir melalui keterangan resminya, Sabtu (9/7/2011).

"Usaha penegakan hukum yang telah dilakukan membuat serangan spam masal semakin kurang diminati oleh penjahat cyber, sehingga mereka beralih untuk mengalokasikan lebih banyak waktu dan usaha melakukan spearphising dan serangan terarah,” tandasnya.

Studi global ini memadukan pandangan dari 361 profesional di bidang teknologi informasi dari 50 negara yang dikumpulkan oleh Cisco Security Intelligence Operations, yang menyediakan informasi atas ancaman-ancaman terbaru secara real-time untuk membantu Cisco agar dapat mengatasi setiap ancaman cyber terbaru.

Cisco SIO merupakan ekosistem keamanan berbasis cloud yang terbesar di dunia, yang telah menggunakan data SensorBase di hampir 1 juta feed data langsung dari penggunaan email, web, firewall dan solusi Intrusion Prevention System (IPS) Cisco.

Kamis, 24 Februari 2011

5 Hacker Wanita Paling Cantik Sedunia

Hacking, dunia bawah tanah keras dan terselubung. Kebanyakan ahli-ahli dalam bidang hacking didominasi oleh kaum pria. Tapi, siapa sangka ternyata kaum hawa juga banyak ambil bagian dalam dunia ini. Kemampuan serta kiprahnya pun tidak kalah dengan kaum adam. Berikut ini bahasan 5 Hacker Wanita Paling Hot Di Dunia. Semoga kita bisa ambil hikmah dari sisi positifnya.

1. Ying Cracker


Ying Cracker, seorang pengajar dari shanghai Cina. dia mengajar tentang panduan dasar proses hacking, cara merubah IP address atau memanipulasi password kantor, wow! Dia juga ahli dalam membuat software hacker.

Dalam sebuah forum yang berjudul Chinese Hottie Hackers, namanya banyak dibahas dan itu membuat popularitasnya semakin menanjak. dalam forum tersebut juga dia punya anggota fans yang banyak. disitulah awal kredibilitasnya melambung.

2. Xiao Tian


Teringat dengan kata hacker, biasanya yang terlintas di bayangan adalah seorang kutu buku dengan kaca mata tebal dengan gaya hidup yang acak-acakan. Tapi tidak berlaku untuk Xiao Tian. dia adalah seorang hacker yang modis. Penampilan dan gaya hidupnya begitu rapi, dinamis bahkan terkesan feminim. Ia juga tertarik sekali dengan dunia fashion, khususnya sepatu. Dalam blog nya dia sering berbagi cerita tentang tempat-tempat yang pernah dia datangi. Itulah alasan mengapa Xiao memiliki banyak fans dan followers di dunia, khususnya para pria.

Xiao Tian mulai dikenal sejak umur 19 tahun. Setelah membentuk China Girl Security Team, salah satu kelompok hacker khusus wanita terbesar di china. Kiprahnya dalam dunia hacking juga tidak diragukan lagi. Raksasa search engine nomor satu di dunia, Google pun pernah merasakan serangan hebat dari Tian beserta timnya. Xiao Tian melakukan serangan canggih terhadap sistem infrastruktur google china. Bahkan, google akhirnya tidak tahan dan memilih untuk menarik semua layanan operasionalnya di China akibat hantaman hacker yang bertubi-tubi tersebut.

3. Joanna Rutkowska


Joanna Rutkowska adalah seorang wanita polandia yang tertarik dengan dunia hacking security. Namanya pertama kali dikenal setelah konferensi Black Hat Briefings di Las Vegas, agustus 2006. Dimana saat itu Rutkowska mempresentasikan proses serangan yang telah dia lakukan terhadap sistem keamanan windows vista. Tidak hanya itu, Rutkowska juga pernah menyerang Trusted Execution Technology dan System Management Mode milik Intel.

Awal 2007 dia membentuk Invisible Things Lab di Warsawa, Polandia. Sebuah perusahaan yang berfokus terhadap research keamanan OS juga VMM serta layanan konsultasi keamanan internet. Tahun 2010 juga Rutkowska bersama Rafal Wojtczuk membentuk Qubes, sebuah Operating System yang sangat full protect security. Rutkowska juga pernah memberikan saran terbuka untuk Vice President of Microsoft Security Technology Unit untuk lebih memperketat sistem keamanan dalam windows vista. Waw, Rutkowska memang seorang hacker yang sangat welcome untuk diajak bekerjasama.

Joanna Rutkowska adalah seorang wanita polandia yang tertarik dengan dunia hacking security. Namanya pertama kali dikenal setelah konferensi Black Hat Briefings di Las Vegas, agustus 2006. Dimana saat itu Rutkowska mempresentasikan proses serangan yang telah dia lakukan terhadap sistem keamanan windows vista. Tidak hanya itu, Rutkowska juga pernah menyerang Trusted Execution Technology dan System Management Mode milik Intel.

4.Kristina Svechiskaya


Kristina Svechinskaya adalah seorang mahasiswi New York University yang ditahan pada 2 november 2010 lalu karena telah membobol jutaan dollar dari beberapa bank di Inggris dan Amerika. Bersama 9 orang lainya, Svechinskaya meng-hack ribuan rekening bank dan diperkirakan total fresh money yang telah digasaknya itu sekitar 3 juta dollar.

Svechinskaya beserta tim awalnya menargetkan jumlah uang yang dicurinya adalah sekitar 220 juta dollar. Svechinskaya menggunakan Zeus Trojan Horse untuk menyerang ribuan rekening bank. Dia memiliki setidaknya 5 rekening bank dunia untuk mencairkan dananya. Dalam aksinya itu, Svechinskaya juga melakukan pemalsuan paspor dan untuk itu total dia dituntut hukuman 40 tahun penjara bila terbukti bersalah.

Seperti dilihat di gambar, bra yang digunakan gadis cantik ini terbuat dari berlian. Svechinskaya juga mendapat julukan sebagai hacker terseksi di dunia. Ya, karena memang tampilan wajah, tatapan mata dan gaya berbusana Svechinskaya bisa membuat orang-orang tak berkedip.

5. Raven Adler


Di urutan terakhir, kita punya Raven Adler. Seorang wanita berpenampilan gothic yang tertarik dengan dunia internet, khususnya dunia hacking. Raven adalah wanita pertama yang pernah hadir dalam konferensi hacker DefCon. Perhatian konferens tentu saja tertuju penuh untuknya. Tapi dia mengaku tidak ingin memanfaatkan gender nya sebagai wanita untuk mendongkrak kredibilitasnya sebagai hacker. Dalam banyak kesempatan pula, dia tidak begitu senang dipanggil dengan sebutan 'Hacker Wanita'. Dia lebih senang dipandang karena skill nya, bukan karena posisinya yang spesial sebagai seorang wanita.

Saat ini dia aktif mendesign, menguji dan mengaudit sistem detektor keamanan untuk berbagai agen-agen federal besar. Selain itu, di sela-sela kesibukanya dia juga telaten mempelajari ilmu beladiri Ryu Shorin Matsumura.
untuk pics lainya silakan dicari di google

Kamis, 27 Januari 2011

Hacker Bikin "Fan Page" Palsu Mark Zuckerberg

Kabar kalau halaman fan page Mark Zuckerberg, pendiri dan CEO Facebook berhasil disusupi hacker jadi perbincangan hangat. Belum ada penjelasan resmi apa yang terjadi sebenarnya.

Kini yang berkembang adalah bermacam spekulasi dari para pengguna Facebook yang sempat melacak halaman situs web yang katanya sempat menulis pesan sindiran untuk Mark Zuckerberg. Satu-satunya bukti hanyalah screenshot yang dilaporkan situs web Techcrunch.com serta klaim beberapa orang yang sempat merekamnya. Halaman cache di search engine Google mapun Bing tak menyimpan pesan tersebut.

Spekulasi paling kuat, seseorang mungkin membuat alamat fan page palsu Mark Zuckerberg yang identik dengan fan page aslinya. Sebab, tak lama setAlah ada laporan fan page tersebut disusupi pesan dari hacker, banyak yang melaporkan halaman fan page dimaksud tak dapat diakses. Facebook mungkin telah mengatasi masalah fan page ganda dan kini telah berhasil mengatasinya dan membuat kedua alamat fan page bisa sinkron ke alamat yang sebenarnya.

Bahkan, salah seorang pembaca Techcrunch. com mengaku kalau link alamat situs web yang melaporkan adanya hacker yang menyusup itu tidak dapat di-share langsung ke Facebook. Saat akan di-share, muncul pesna bahwa link tersebut mengandung spam. Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa tim teknis Facebook mencoba menghalangi agar berita tak tersebar. meski demikian, posting dari hacker di fan page yang diduga palsu terlanjur di-like ribuan orang.

Bahkan, ada spekulasi juga kalau Techcrunch.com sengaja membuat halaman palsu dan merekayasa berita sendiri. Sebab, alamat yang di-link situs web tersebut ternyata bukan ke halaman page melainkan ke halaman user. Facebook belum memberi komentar resmi atas berita tersebut.

Rabu, 12 Mei 2010

Jutaan Akun Facebook Colongan Dijual

Seorang penjahat cyber mengaku telah berhasil mencuri username dan password dari sekitar 1,5 juta akun Facebook. Deretan akun tersebut pun coba ditawarkan di forum online bawah tanah.

Lembaga analis VeriSign iDefense menyatakan, pelaku dikenal dengan nama Kirllos. Ia menjajakan akun-akun colongan ini dengan beragam harga, mulai dari US$ 25 hingga US$ 45 untuk 1.000 akun.

“Untuk saat ini sepertinya Kirllos sudah menjual hampir 700 ribu akun,” menurut Rick Howard, Director Cyber Intelligence VeriSign, PC World, Jumat (23/4/2010).

VeriSign sendiri masih belum memastikan apakah jutaan akun yang diperjualbelikan oleh Kirllos itu asli atau tidak. Hanya saja yang pasti, pencurian password dan username di akun sebuah situs jejaring sosial sangat mungkin terjadi. Namun jika jumlahnya sudah massal, tentu ini merupakan suatu ancaman yang serius.

Kirllos diprediksi memanfaatkan suatu program jahat untuk mencuri informasi sensitif pengguna. Misalnya, dia menyebarkan suatu link ke akun sembarang orang. Nah, di dalam link tersebut biasanya akan tersembunyi program jahat atau virus yang mengintai calon korban.

Alhasil, ketika diklik, virus itu langsung menyebar ke komputer pengguna dan mulai bekerja menjalankan misinya untuk mencari informasi-informasi pribadi untuk kemudian dikirimkan kembali ke tuannnya.

Facebook sendiri saat ini telah memiliki lebih dari 400 juta pengguna di seluruh dunia. Jika aksi pencurian cyber ini terus berlanjut, pastinya ini akan menjadi mimpi buruk bagi setiap pengguna Facebook.

Dan bagi si penyedia layanan — Facebook cs. — pun sejatinya sudah harus memiliki langkah strategis untuk menangkal pembobolan tersebut. Jika tidak, user bisa takut untuk bermain di situsnya.

Jejak Pembobol 1,5 Juta Account Facebook Terendus

Seorang pembobol bernama Kirllos, yang menjual sekitar 1,5 juta account Facebook, mulai terendus jejaknya. Konon, ia berada di Selandia Baru.

Demikian laporan dari NZHerald.co.nz, Senin (26/4/2010). Lewat account ICQ diketahui Kirllos menuliskan alamatnya adalah di Selandia Baru.

Kemudian, ia disebut-sebut adalah seorang pria berusia 24 tahun. Kemudian, Kirllos dikatakan lahir di Russia dan mampu berbahasa Inggris, Prancis serta Russia.

Detektif dari Cyber Crime Unit di Selandia Baru mengatakan telah mulai melakukan kerjasama dengan biro penyelidikan FBI dari Amerika Serikat. Diharapkan, lewat kerjasama internasional, jejak Kirllos bisa terlacak.

Martin Cocker, Direktur Eksekutif dari NetSafe New Zealand, mengatakan pria ini merupakan bagian dari jaringan penipu internasional. Informasi yang ditawarkan pun disebutnya sebagai ‘data mentah’ yang bisa jadi sudah berubah.

Rekening hasil pembobolan itu diduga akan dipakai untuk menipu pengguna Facebook lainnya. Misalnya, untuk mengirimkan tautan palsu yang berbahaya. “Ujung-ujungnya, yangdikejar oleh orang-orang ini adalah uang,” ia menambahkan.

Informasi yang dijual Kirllos diduga berasal dari program jahat yang diam-diam merekam informasi pada komputer korban. Dari 1,5 juta account yang dijualnya, diperkirakan sejumlah 700 ribu account sudah terjual dengan nilai sekitar USD 25.000 (sekitar Rp 225 juta)
sumber